Tampilkan postingan dengan label Penyakit Menular Seksual. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Penyakit Menular Seksual. Tampilkan semua postingan

Jumat, 03 Juli 2009

PENYAKIT MENULAR SEKSUAL & KEHAMILAN

image


Di Amerika Serikat setiap tahun hampir sekitar 16 juta manusia terserang PMS - Penyakit Menular Seksual. PMS adalah infeksi yang penularannya terjadi melalui kontak seksual baik dalam bentuk kontak seksual genital, oral atau anal.


Banyak penderita PMS tidak menyadari bahwa dirinya mengidap PMS oleh karena penyakit ini seringkali tidak menunjukkan gejala.


PMS dapat menimbulkan resiko bagi ibu hamil dan janin yang dikandungnya. PMS dapat menyebabkan :

  • Abortus
  • Kehamilan Ektopik (embrio melakukan implantasi diluar rahim)
  • Persalinan preterm (kehamilan ≤ 37 minggu )
  • Lahir mati
  • Cacat bawaan
  • Morbiditas neonatus
  • Kematian

Seringkali penularan pada janin terjadi saat persalinan, saat melalui jalan lahir yang terinfeksi. Namun, sejumlah infeksi juga dapat terjadi secara transplasental sehingga menyebabkan infeksi janin intrauterin.

Adalah satu hal yang penting untuk memastikan bahwa wanita hamil bebas dari PMS. Pada kunjungan prenatal pertama, provider kesehatan (bidan, dokter , obstetric & gynecologist) akan melakukan skrining untuk beberapa jenis PMS, termasuk HIV – human immunodeficiency virus ( pada beberapa sentra kesehatan tertentu ) dan syphilis. Beberapa jenis PMS dapat disembuhkan dengan obat, namun tidak semua jenis PMS dapat diobati dengan obat.

Bila jenis PMS yang diderita termasuk jenis yang sulit disembuhkan maka harus diambil langkah terbaik untuk melindungi janin yang dikandung.
Beberapa penyakit yang termasuk penyakit menular seksual :

  • Chlamydia
  • Gonorrhoea
  • Syphilis
  • Vaginosis bakterial
  • Trichomoniasis
  • Herpes genitalis
  • Kondiloma akuminata
  • Hepatitis B


Rujukan :

  1. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Trends in Reportable Sexually Transmitted Diseases in the United States, 2005. December 2006.
  2. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Chlamydia Fact Sheet. Accessed 5/17/07.
  3. Cunningham, F.G., et al. Sexually Transmitted Diseases, in Williams Obstetrics, 22nd Edition. New York, McGraw-Hill Medical Publishing Division, 2005, pages 1301-1325.
  4. Workowski, K.A., Berman, S.M. Sexually Transmitted Disease Treatment Guidelines, 2006. Morbidity and Mortality Weekly Report, volume 55, RR11, August 4, 2006.
  5. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Sexually Transmitted Disease Surveillance 2005 Supplement, Syphilis Surveillance Report. December 2006.
  6. American Academy of Pediatrics. Red Book: 2006 Report of the Committee on Infectious Diseases, 27th Edition. Elk Grove Village, IL, 2006, pages 631-644.
  7. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Bacterial Vaginosis Fact Sheet. Accessed 5/18/07.
  8. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Trichomoniasis Fact Sheet. Accessed 5/18/07.
  9. Okun, N., et al. Antibiotics for Bacterial Vaginosis or Trichomonas Vaginalis in Pregnancy: A Systematic Review. Obstetrics and Gynecology, volume 105, 2005, pages 857-868.
  10. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Genital Herpes Fact Sheet. Accessed 5/18/07.
  11. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Quadrivalent Human Papillomavirus Vaccine: Recommendations of the Advisory Committee on Immunization Practices. Morbidity and Mortality Weekly Report, volume 56, RR02, March 23, 2007.
  12. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). HIV/AIDS Among Women. March 2007.
  13. American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG). Hepatitis B Virus in Pregnancy. ACOG Patient Education Pamphlet, April 2008.
  14. American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG). Viral Hepatitis in Pregnancy. ACOG Practice Bulletin, number 86, October 2007.
  15. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Viral Hepatitis. Updated 7/26/07.

INFEKSI CHLAMYDIA dan KEHAMILAN

clip_image002

Apa yang dimaksud dengan infeksi Chlamydia ?

Infeksi Chlamydia ("kla-MID-ee-uhl") adalah jenis PMS – penyakit menular seksual yang dapat disembuhkan dan disebabkan oleh bakteri Chlamydia Trachomatis. Anda dapat tertular infeksi Chlamydia trachomatis saat melakukan hubungan seksual genital, anal ataupun oral dengan laki-laki yang menderita infeksi Chlamydia trachomatis. Infeksi ini akan menimbulkan masalah pada pria , wanita dan bayi yang dikandungnya.


Bagaimana gejala dan keluhan dari Infeksi Chlamydia ?

Oleh karena infeksi Chlamydia pada awalnya tidak membuat seseorang merasa sakit, maka anda akan dapat mendapatkan infeksi ini dan tidak menyadarinya. Beberapa penderita memperlihatkan gejala keluarnya cairan yang abnormal ( lendir atau nanah ) dari vagina, penis saat buang air kecil. Gejala dini ini mungkin ringan dan muncul 1 – 3 minggu setelah infeksi. Akibat gejala yang ringan ini maka infeksi ini tidak segera memperoleh terapi,

Tanpa pengobatan maka bakteri Chlamydia dapat naik keatas ( ‘ascending infection’ ) sehingga menyebabkan infeksi panggul ( PID – pelvic inflamatory disease ) pada wanita atau epididimitis pada pria , keduanya merupakan keadaan yang tidak boleh diabaikan.

C. trachomatis dapat menyebabkan radang rektum dan radang kelopak mata ( ‘pink eye‘ ). Aktivitas seksual oral dengan pengidap chlamydia dapat menyebabkan terjadinya infeksi tenggorokan.


Bagaimana diagnosa Infeksi Chlamydia ditegakkan ?

Infeksi Chlamydia sering dikelirukan dengan gonorrohoea oleh karena gejala yang serupa dan disamping itu kedua jenis bakteri tersebut mungkin terdapat secara bersamaan. Metode untuk mengetahui adanya infeksi Chlamydia adalah dengan pemeriksaan laboratorium melalui pemeriksaan sediaan yang diperoleh dari hapusan cairan vagina atau penis.


Bagaimana pengobatan Chlamydia ?

Bila anda terkena infeksi Chlamydia maka dokter akan memberikan antibiotika seperti Azithromycin ( satu kali sehari ) atau Doxycycline ( selama 7 hari ) untuk mengatasi infeksi Chlamydia. Atau, dapat pula diberi jenis antibiotika lain seperti Erythromycin atau Oxfloxacine

Bila anda sedang hamil maka dokter akan menuliskan resep azithromycin atau Erythromycin. Chlamydia trachomatis tidak sensitif terhadap Peniciline dan derivatnya.

Bila anda menderita infeksi Chlamydia :

  • Habiskan semua obat yang diresepkan meskipun gejala atau keluhan telah hilang
  • Bila 1 – 2 minggu pasca terapi, gejala-gejala masih ada maka datanglah kembali pada dokter anda.
  • Beritahukan pada suami bahwa anda menderita infeksi Chlamydia, sehingga bila perlu diapun harus diperiksa dan bila perlu diobati.


Apa yang terjadi bila infeksi Chlamydia tidak di obati ?

Pada wanita, infeksi Chlamydia yang tidak diobati akan menyebabkan penyakit radang panggul. Pada pria, akan menyebabkan skrotum nyeri dan bengkak yang menandakan adanya radang pada testis atau epididimis. Kedua keadaan diatas akan menyebabkan gangguan fertilitas.

Di AS, 50% penyebab infeksi radang panggul disebabkan oleh infeksi Chlamydia dan sebagian besar diantaranya tidak menunjukkan gejala. Penyakit radang panggul akan menyebabkan terbentuknya jaringan parut pada tuba falopii dan menyebabkan infertilitas.

Jaringan parut akan menyebabkan hambatan perjalanan hasil konsepsi menuju uterus sehingga dapat menyebabkan terjadinya kehamilan ektopik .


Dapatkah infeksi Chlamydia mengenai neonatus ?

Neonatus yang terpapar dengan Chlamydia trachomatis selama perjalanannya melewati jalan lahir pada proses persalinan per vaginam dapat menderita infeksi mata atau pneumonia. Gejala konjungtivitis (‘pink eye’) yang supuratif dan disertai pembengkakan kelopak mata umumnya terjadi dalam waktu 10 hari pertama kehidupan neonatus.

Gejala pneumonia antara lain batuk yang akan menjadi semakin berat disertai dengan kongesti jalan nafas terjadi pada neonatus usia 3 – 6 minggu.

Atas dasar alasan tersebut diatas maka dokter menyarankan perlunya dikerjakan pemeriksaan skrining terhadap Chlamydia pada semua wanita hamil.


Bagaimana pencegahan agar tidak terjadi infeksi Chlamydia ?

Anda dapat mengurangi kemungkinan terkena serangan infeksi Chlamydia atau menularkannya kepada pasangan anda bila anda melakukan sanggama menggunakan kondom.

Bila anda menderita infeksi Chlamydia namun tidak memunjukkan gejala, anda akan menularkan infeksi kepada pasangan anda tanpa sadar. Atas dasar alasan ini maka dokter menyarankan kepada anda yang memiliki beberapa pasangan seksual terutama yang berusia kurang dari 25 tahun untuk melakukan pemeriksaan Chlamydia secara regular meskipun anda tidak memperlihatkan gejala apapun juga.


editor : dr.Bambang Widjanarko, SpOG

Awal Juli 2009

HERPES GENITALIS dan KEHAMILAN

clip_image002


Herpes Genitalis dalam Kehamilan
  • Apa yang dimaksud dengan herpes genitalis?
  • Seberapa sering kejadian herpes genitalis?
  • Bagaimana seseorang dapat terinfeksi herpes genitalis?
  • Apa gejala dan tanda dari herpes genitalis?
  • Apa komplikasi dari herpes genitalis?
  • Bagaimana menegakkan diagnosa herpes genitalis?
  • Bagaimana pengobatan terhadap herpes genitalis?
  • Bagaimana mencegah infeksi herpes genitalis?

Apa yang dimaksud dengan Herpes Genitalis ?
Herpes Genitalis tergolong didalam penyakit menular seksual – PMS disebabkan oleh virus herpes simplex type 1 (HSV-1) atau type 2 (HSV-2 ). Sebagian besar herpes genitalis disebabkan oleh HSV-2. Sebagian besar inidividu yang terinfeksi HSV-1 dan HSV-2 tidak atau sedikit sekali yang memperlihatkan adanya gejala. Gejala yang mungkin ada terlihat sebagai satu atau dua vesikula sekitar genitalia atau anus. Saat vesikula pecah terbentuklah ulkus dangkal (‘sores’) yang pada infeksi perdana memerlukan waktu kesembuhan sekitar 2 – 4 minggu. Biasanya infeksi ini akan kambuh dalam waktu beberapa minggu atau beberapa bulan setelah infeksi primer namun dengan derajat yang lebih ringan dan singkat. Meskipun infeksi virus tetap berada dalam tubuh untuk waktu yang lama, namun kekambuhan akan terjadi dengan frekuensi yang semakin jarang.


Seberapa sering kejadian Herpes Genitalis ?
Di Amerika Serikat penyakit ini sering terjadi. Sekurang-kurangnya 45 juta penduduk usia 12 tahun keatas atau 1 dari 5 penduduk dewasa menderita infeksi HSV pada genitalia. 10 tahun terakhir, angka tersebut terlihat menurun.
Infeksi HSV-2 pada genitalia lebih sering terjadi pada wanita ( satu dari empat wanita dewasa ) dibandingkan pria ( satu dari lima pria dewasa ). Nampaknya penularan HSV dari pria ke wanita lebih sering terjadi dibandingkan sebaliknya.


Bagaimana seseorang dapat terinfeksi Herpes Genitalis ?
HSV-1 dan HSV-2 ditemukan di dan dilepaskan dari lesi yang disebabkan oleh virus tersebut, namun selain itu nampaknya penularan juga dapat terjadi tanpa melalui lesi tersebut. Pada umumnya dan tidak selalu, infeksi HSV-2 terjadi melalui kontak seksual dengan penderita infeksi HSV-2. Penularan dapat terjadi dari pasangan yang terinfeksi dan tidak memperlihatkan adanya lesi yang jelas dan tidak disadari oleh penderitanya.
HSV-1 dapat menyebabkan herpes genitalis namun umumnya menyebabkan adanya herpes di bibir dan mulut. Infeksi HSV-1 pada genitalia dapat terjadi akibat kontak seksual oro genital ataupun genital-genital pada penderita infeksi HSV-1 genitalia. Serangan HSV-1 genital lebih jarang terjadi dibanding serangan HSV-2 pada genitalia.


Apa tanda dan gejala Herpes Genitalis ?
Sebagian besar penderita infeksi HSV-2 tidak menyadari adanya infeksi ini. Akan tetapi bila tanda dan gejala terjadi pada serangan primer maka hal tersebut pasti diketahui oleh penderita. Serangan primer umumnya terjadi dalam waktu 2 minggu pasca infeksi dan lesi akan sembuh dalam waktu 2 – 4 minggu. Tanda dan gejala lain pada infeksi primer umumnya berupa gejala flu ringan, pembesaran kelenjar. Akan tetapi, sebagian besar individu yang ter infeksi HSV-2 seringkali tidak mengalami adanya lesi atau terdapat gejala yang sangat ringan sehingga dianggap sebagai akibat gigitan serangga atau kelainan kulit lainnya.
Penderita infeksi primer yang memperlihatkan adanya lesi genital diperkirakan akan mengalami beberapa serangan ulang dalam waktu setahun. Frekuensi serangan akan menjadi semakin jarang dalam tahun-tahun berikutnya.


Apa komplikasi Herpes Genitalis ?
Lesi genitalia pada herpes genitalis terasa sangat nyeri pada penderita dengan gangguan sistem imunologi. Serangan herpes genitalis sering menyebabkan stres pada penderita yang menyadari bila dia terkena infeksi herpes genitalis.
Herpes genitalis dapat berakibat fatal pada neonatus. Infeksi herpes genitalis pada trimester akhir kehamilan sedapat mungkin harus dihindari oleh karena sangat potensial untuk menular pada janin. Bila pada saat persalinan terdapat lesi herpes genitalis maka persalinan dilakukan per abdominal ( sectio caesar )
Herpes genitalis berperan dalam penyebaran HIV, virus penyebab AIDS. Herpes genitalis menyebabkan seseorang menjadi rentan terhadap serngan infeksi HIV dan membuatindividu yang terinfeksi dengan HIV menjadi sangat infeksius.


Bagaimana menegakkan diagnosa Herpes Genitalis ?
Gejala dan tanda dari infensk HSV-2 sangat bervariasi. Provider kesehatan seringkali dapat menegakkan diagnosa hanya melalui inspeksi oleh karena lesi yang ada sangat tipikal dan dipastikan dengan pemeriksaan virologi pada keropeng lesi yang ada. Infeksi HSV dapat di diagnosa melalui pemeriksaan darah untuk melihat adanya antibodi terhadap HSV-1 dan HSV-2, meskipun sangat membantu namun hasilnya tidak selalu dapat dipercaya.


Bagaimana pengobatan terhadap Herpes Genitalis ?
Tidak ada satu jenis terapi untuk mengobati Herpes, namun pemberian antiviral dapat memperpendek dan mencegah serangan ulang. Sebagai tambahan, terapi supresif harian pada saaat infeksi herpes genitalis memperlihatkan gejala dapat menurunkan kejadian penularan pada pasangannya.


Bagaimana mencegah infeksi Herpes Genitalis ?
Cara paling pasti untuk menghidari infeksi PMS termasuk herpes genitalis adalah tidak melakukan kontak seksual dengan sembarang pasangan dan batasi aktivitas seksual yang bebas.
Ulkus genital dapat terjadi pada genitalia pria maupun wanita yang terlindungi dengan kondom. Akan tetapi penggunaan kondom secara konsisten dan benar dapat menurunkan kemungkinan terjadinya infeksi herpes genitalis.
Penderita herpes genitalis harus menghindari kontak seksual saat gejala herpes muncul. Harus disadari bahwa meskipun tanpa gejala, seseorang dapat menularkan virus HSV pada pasangan seksualnya. Pasangan seksual dari seorang penderita harus diingatkan bahwa dia dapat tertular sehingga dimasehatkan untuk menggunakan kondom pada setiap aktivitas seksual. Hasil pemeriksaan darah yang memperlihatkan adanya antibodi HSV mengindikasikan kemungkinan adanya infeksi