Tampilkan postingan dengan label Anatomi dan Fisiologi Organ Reproduksi Wanita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Anatomi dan Fisiologi Organ Reproduksi Wanita. Tampilkan semua postingan

Jumat, 03 Juli 2009

IMPLANTASI & PEMBENTUKAN PLASENTA

Dalam beberapa jam pasca fertilisasi, penyatuan nuklei akan membentuk dua buah sel dan selanjutnya dalam waktu 3 – 4 hari sudah terbentuk sebuah masa solid yang disebut morula.

clip_image002

Stadium 2 sel

clip_image004

Stadium 8 sel


PROSES IMPLANTASI

clip_image006


Morula dengan cepat berjalan didalam Tuba Falopii menuju rongga uteru. Selama perjalanannya, melalui kanalikuli zona pellucida masuk sejumlah cairan membentuk rongga cairan dalam morula sehinga terbentuk blastosis


clip_image008

clip_image010


Perkembangan ovum dan perjalanannya melalui tuba falopii kedalam uterus. (a) unsegmented oosit (b) fertilisasi (c) pembentukan pronuklei (d) pembelahan meiotik pertama ( e)stadium 2 sel (f) stadium 4 sel (g) stadium 8 sel (h) morula ; (i) dan (j) pembentukan blastosis (k) Zona Pellucida hilang dan terjadilah implantasi


clip_image012

Pembentukan villi chorialis (a) projeksi trofoblas dengan pembentukan lakuna. Belum terlihat inti mesodermal (b) inti mesodermal terbentuk dalam villus


Setelah mencapai rongga rahim, zona pellucida mengembang dan menipis. Struktur ini segera masuk kedalam stroma endometrium. Sekitar 50% bagian blastosis berada dalam endometrium. Sel trofoblas superfisial mengalami diferensiasi menjadi sitotrofoblas ( lapisan dalam ) dan sinsitiotrofoblas ( lapisan luar ). Jonjot-jonjot trofoblas dengan cepat terbentuk dan menginvasi stroma endometrium secara terkendali.


Pada hari ke 7 pasca fertilisasi, jonjot trofoblas membentuk inti mesodermal dan masuk lebih dalam kedalam stroma endometrium :




clip_image014

Bagian embrio yang terlihat adalah ‘ inner cell mass’ ; blastosis mengempis


clip_image016

Gambar pada hari ke 10 pasca fertilisasi


Pada hari ke 10 pasca fertilisasi, ‘inner cell mass’ mengalami diferensiasi menjadi lapisan ektodermal, lapisan mesodermal dan lapisan endodermal dan pembentukan rongga kecil berisi cairan yang akan menjadi kantung amnion.

Perkembangan lebih lanjut dari kantung amnion dapat dilihat pada gambar berikut :




clip_image018

Pembentukan kantung amnion :

(a) Pembentukan “ inner cell mass” dan perkembangan kantung amnion serta yolc sac primer

(b) Terbentuk rongga dalam mesoblas membentuk extra embryonic coelom

(c) Ukuran yolc sac primer berkurang setelah extra embryonic coelom membesar

(d) Kantung amnion terbentuk dan menempati extra embryonic coelom

(e) Pada hari ke 45, kantung amnion yang berada disekitar embrio

‘inner cell mass’ tumbuh kedalam rongga blastosis asli dengan dinding yang terbentuk dari sitotrofoblas dan rongga didalamnya berisi jaringan mesoderm seperti terlihat pada gambar berikut ini :


clip_image020

Gambar embrio hari ke 12. Trofoblas blastosis mengalami diferensiasi menjadi sinsitium primitif dan sinsitiotrofoblas. Mesoblas mengalami diferensiasi dan mengisi seluruh cavum blastosis. Terbentuk lakuna dalam sinsitium


PEMBENTUKAN PLASENTA

Saat sinsitiotrofoblas menembus desidua, sinsitiotrofoblas menghasilkan human chorionic gonadotropin-hCG yang berfungsi agar corpus luteum tetap memproduksi estrogen dan progesteron untuk mempertahankan kehamilan.

Pada beberapa bagian desidua, sinsitium mengadakan invasi pada dinding arteri spiralis yang berada diantara desidua sehingga menjadi arteri berdinding tebal yang memungkinkan bertambahnya aliran darah.

Pembuluh darah tersebut rapuh dan mudah pecah sehingga membentuk lakuna yang berisi darah. Pada kehamilan normal, proses diatas berlangsung lengkap pada kehamilan 20 – 22 minggu.

Bila proses ini tidak berlangsung secara normal, kemungkinan akan terjadi penyakit hipertensi dalam kehamilan pada perjalanan kehamilan selanjutnya. Dengan proliferasi lebih lanjut, tonjolan trofoblas bentuknya menjadi bentukan seperti telapak tangan dan pembuluh darah terbentuk dalam inti mesodermal (villi chorialis).

Pada hari ke 19, seluruh hasil konsepsi sudah terbungkus dengan villi chorialis, sebagian villi chorialis menempel pada desidua (anchoring villi) dan sebagian besar mengapung bebas dalam lakuna darah. Pada stadium ini, penetrasi kedalam desidua berhenti akibat pengaruh imunologis atau mekanisme kimiawi. Terjadi pembentukan lapisan kolagen dimana arteri dan vena spiralis akan melakukan penembusan. Oleh karena pasokan darah terutama dibagian permukaan konseptus, maka dibagian tersebut villi chorialis akan tumbuh lebih cepat membentuk cabang-cabang dan disebut sebagai chorion frondusum.

Villi chorialis dibagian lain akan mengalami degenerasi dan membentuk chorion leave.

Chorion frondusum akan membentuk plasenta dan pembentukan plasenta lengkap pada hari ke 70 pasca fertilisasi seperti terlihat pada gambar berikut :



clip_image022

Hubungan antara chorionic sac, amnion dan embrio dengan endometrium, rongga uterus pada awal kehamilan. Pada gambar terlihat embrio pada kehamilan 10 minggu terhitung sejak hari pertama haid terakhir.


clip_image024

Ruang intervilus. Kotiledon janin dapat dilihat dan memperlihatkan pancaran darah arterial .

Aliran darah mengalir kedalam vena secara bertahap

FERTILISASI

Fertilisasi ( konsepsi, fekundasi atau singami) adalah peristiwa penyatuan sperma dengan sel telur yang menyebabkan terbentuknya zygote. Fertilisasi pada umumnya berlangsung dalam tuba fallopii pars ampularis.

Zygote (hasil pembuahan) mengalami proses pembelahan berulang dan berjalan menuju uterus.

Didalam endometrium terjadi implantasi dan hasil konsepsi terus berkembang menjadi embrio serta plasenta dan selaput amnion.

Selaput ketuban primitive menghasilkan hCG – human chorionic gonadotropin yang memiliki aktivitas biologik menyerupai LH dan mengambil alih fungsi luteinisasi.

14 hari pertama setelah fertilisasi, uterus terus mengalami pertumbuhan dan pembentukan desidua (endometrium pada masa kehamilan ) ditentukan oleh corpus luteum dibawah pengaruh hipofise. Setelah itu, kadar LH hipofisis akan menurun sebagai akibat dari kenaikan kadar hCG.

clip_image002

Dibawah pengaruh hCG, corpus luteum terus tumbuh dan menghasilkan hormon steroid

ovarium untuk mempertahankan pertumbuhan uterus. Kadar hCG mencapai puncaknya pada minggu ke 10 – 12 dan setelah itu terus menurun sampai tingkat tertentu selama kehamilan.

Akibat dari penurunan tersebut adalah penurunan kadar estrogen dan progesteron. Setelah kontribusi ovarium dalam menunjang kehamilan berkurang maka plasenta terus meningkatkan produksi steroid. Produksi steroid plasenta sangat berlimpah dan setara dengan yang dihasilkan oleh hormon yang dihasilkan oleh hipotalamus dan hipofise. Kapasitas produksi hormon ini terjadi sejak plasenta mulai terbentuk.

clip_image004

Anda dapat melihat video animasi pembelahan sel pada website berikut ini :

http://stemcells.nih.gov/info/cellmovie.htm

MENSTRUASI

Selama siklus ovarium, perubahan kadar estrogen dan progesteron menyebabkan terjadinya perubahan dramatik pada endometrium. Setelah fase menstruasi berakhir, tebal endometrium hanya 1 – 2 mm. Dibawah pengaruh kenaikan kadar estrogen maka pada siklus menstruasi hari ke 12, tebal endometrium mencapai 10 – 12 mm. Pertumbuhan ini terjadi akibat bertambahnya sel epitel dan stroma lapisan atas (superfisial) endometrium. Fase ini dinamakan FASE PROLIFERASI, fase ini ditandai dengan meningkatnya reseptor estrogen dan bertambah besarnya kelenjar endometrium.


clip_image001


Setelah OVULASI jumlah reseptor progesteron meningkat dan efek progesteron yang dihasilkan ovarium menjadi semakin nyata oleh karena endometrium memasuki FASE SEKRESI. Pada fase sekresi, aktivitas mitotik pada epitelium berhenti dan kelenjar endometrium menjadi semakin berkelok-kelok dan mengalami dilatasi. Pembuluh darah endometrium menjadi semakin melingkar-lingkar, Akumulasi glikogen dalam endometrium mencapai puncaknya akibat pengaruh enstrogen dan progesteron. Proses ini bertujuan untuk mempersiapkan endometrium dalam proses implantasi hasil fertilisasi. Bila tidak terjadi fertilisasi, kadar estrogen dan progesteron menurun dan terjadilah menstruasi.

<Samsung i85, Samsung VLUU i85>

editor : dr.Bambang Widjanarko, SpOG

Awal Juli 2009

OVULASI

image

Proses ovulasi, fertilisasi dan implantasi hasil konsepsi merupakan proses rumit yang belum dipahami sepenuhnya.

Ovulasi adalah interaksi dari hipotalamus – hipofise – ovarium dan endometrium.

Ovarium memiliki 2 peran utama :

  1. Fungsi endokrin untuk menghasilkan estrogen dan progesteron dalam rangka mempersiapkan uterus untuk menerima hasil konsepsi
  2. Gametogenesis dan ovulasi


PROSES OVULASI

Perkembangan folikel ovarium terjadi sebagai akibat dari stimulasi hormon yang dihasilkan oleh kelenjar hipofise

Hipotalamus dan hipofise merupakan organ yang saling terkait. Secara bersama-sama keduanya mengatur struktur dan fungsi ovarium melalui siklus menstruasi.

Hipotalamus menghasilkan GnRH - Gonadotropin Releasing Hormone yang selanjutnya akan merangsang produksi FSH – follicle stimulating hormone dan LH – Luteinizing Hormone


KENDALI HIPOFISIS TERHADAP OVARIUM

clip_image002

Perubahan dalam ovarium terutama dikendalikan oleh hipofise anterior yang menghasilkan produksi 3 hormon utama :

  1. FSH – follicle stimulating hormone, yang merangsang pertumbuhan folikel ovarium
  2. LH – Luteinizing Hormone, yang menyebabkan ovulasi dan menyebabkan luteinisasi sel granulosa setelah ovulasi
  3. Prolactine


KENDALI HIPOFISIS TERHADAP OVARIUM

Pada akhir siklus menstruasi kadar estrogen rendah. Rendahnya kadar estrogen ini merangsang produksi FSH oleh hipofise. Selanjutnya FSH menstimulasi pertumbuhan sejumlah folikel ovarium. Folikel yang terstimulasi akan meningkatkan kadar kadar estrogen dan kenaikan kadar estrogen dapat mempengaruhi hipofisis sehingga menyebabkan penurunan kadar FSH ( proses umpan balik negatif ).

clip_image004

Pada sebagian besar kasus, dari 10 – 20 folikel tumbuh dibawah pengaruh FSH namun hanya satu diantaranya (folikel dominan) yang dapat tumbuh cukup besar dan memiliki densitas reseptor FSH yang cukup memadai sehingga dapat memberikan respon dengan rendahnya kadar FSH sehingga dapat terus berkembang sampai tahapan ovulasi.

Kadar estrogen terus meningkat. Pada pertengahan siklus menstruasi situasi ovarium mengendalikan adanya perubahan fungsi hipofise. Peningkatan kadar estrogen yang terjadi akan menyebabkan terjadinya ‘surge’ kadar FSH dan LH ( proses umpan balik positif ). Peristiwa ini akan memicu terjadinya ovulasi. Peranan LH dalam hal ini adalah untuk :

  1. Menyebabkan adanya produksi prostaglandin dan ensim proteolitik lokal sehingga dapat terjadi ekstrusi sel telur dari folikel yang telah matang
  2. Pertumbuhan corpus luteum sehingga menghasilkan progesteron.

editor :
dr.Bambang Widjanarko, SpOG
Awal Juli 2009

ANATOMI ORGAN REPRODUKSI WANITA

VULVA_kecil

ORGAN REPRODUKSI BAGIAN LUAR WANITA

Vulva

Kumpulan berbagai struktur genitalia eksterna wanita disebut sebagai vulva , bagian- bagian yang disebut dibawah merupakan bagian dari vulva :

Mons Veneris -MV

Mons veneris adalah bahasa latin yang berarti ‘bukit Venus’ (dewi cinta Romawi) berupa jaringan lemak yang menutupi os pubis dibawah abdomen dan diatas labia. Pada beberapa wanita bagian ini merupakan bagian yang sensitif.

Labia Majora - LMa

Labia majora adalah bibir luar vulva erupa tumpukan jaringan lemak sekitar vulva mulai dari mons sampai perineum. Bagian ini umumnya tertutup rambut dan memiliki sejumlah kelenjar lemak dan keringat yang diperkirakan dapat menimbulkan aroma pembangkit gairah seksual.

Labia Minora -LMi

Labia minora adalah bibir dalam vulva, berupa jaringan tipis yang elastis didalam labia majora yang terlipat dan menutup vagina, urethra dan klitoris. Penampilan labia minora bervariasi ada yang sangat tipis atau sampai menonjol keluar. Bagian dalam dan luar labia adalah bagian yang sangat sensitif terhadap sentuhan dan tekanan.

Klitoris - GC

Klitoris, tonjolan oval, putih antara puncak labia minora dan preputium klitoris. Struktur ini berupa jaringan spongiosa yang sangat sensitif. Sebenarnya struktur ini berukuran sepanjang 4 inchi (yang terlihat dari luar hanya ujung dari klitoris) dan memiliki dua krura yang berjalan melingkari lubang vagina kearah perineum. Jadi sebenarnya klitoris ini lebih besar dari yang diperkirakan. Seperti halnya pada pria , glan klitoris tertutup oleh preputium yang serupa pada pria. Pada fase eksitasi, klitoris mengembang dan terjadi retraksi preputium (preputium clitoridis-pc )sehingga terjadi penonjolan dari glans klitoris. Pada beberapa wanita, ukuran klitoris tidak terlalu besar, tapi kadang-kadang klitoris sedemikian besarnya sehingga ukuran preputium menjadi sangat tidak sebanding dan klitoris terlihat sangat menonjol.

Urethra - UO

Muara urethra berada dibawah klitoris. Struktur ini tidak terkait dengan sex atau reproduksi dan merupakan saluran keluar air seni. Urethra berhubungan dengan kandung kemih . Mengingat bahwa muara urethra angat dekat dengan anus maka untuk menghindari infeksi urethra yang berasal dari anus maka aliran membilas vulva harus dari depan ke belakang.

Himen - H

Himen (selaput dara ) sebuah membran tipis yang menutup sebagian dari lubang vagina dan dapat robek akibat tertembus benda tumpul (penis), olah raga atau saat memasukkan tampon vagina. Kadang-kadang, selaput dara ini tidak memiliki lubang (hymen imperforatus) sehingga vagina tidak memiliki saluran keluar tubuh dan darah haid akan tertimbun didalam vagina menjadi hematocolpos dan hematometra (tertimbunnya darah dalam vagina dan uterus)

Perineum - PC

Perineum bagian kulit yang sangat pendek antara dasar vulva sampai anus. Perineum wanita sering cedera saat persalinan baik yang terjadi secara sengaja ( tindakan episiotomi saat persalinan) atau akibat regangan berlebihan dari kepala janin.


ORGAN REPRODUKSI BAGIAN DALAM WANITA

Vagina – Servik – Uterus – ‘G spot’

clip_image004


Vagina

Vagina terbentang dari lubang luar vagina (orifisium vaginae) sampai lubang keluar uterus (ostium uteri eksternum -eksternal os). Vagina berperan untuk dalam mengakomodasi penis saat sanggama dan sebagai jalan keluar janin saat persalinan. Ukuran panjang kanalis vagina rata-rata 3 inchi, ukuran tersebut nampaknya relatif pendek dibandingkan ukuran rata-rata penis, namun saat penetrasi seksual, servik dapat terangkat keatas dan fornix dapat melebar sampai corpus untuk mengakomodasi penis secara menyeluruh. Pasca sanggama, kontraksi vagina menyebabkan servik turun kembali dan fase relaksasi ini menyebabkan terbentuknya semacam kantung pada fornik bagian belakang yang berperan sebagai penampung sperma.

Pada kedua sisi lubang vagina (orifisium vaginae) terdapat kelenjar Bartholine yang menghasil kan cairan untuk menjaga kelembaban bagian labia serta pelicin bagian dalam vagina selama periode eksitasi dalam respon seksual yang normal.

"G-Spot"

Kata tersebut beradadiantara dua tanda petik oleh karena keberadaannya masih menjadi bahan perdebatan. Pada gambar diatas, apa yang disebut sebagai ‘G-spot’ adalah merupakan daerah kelenjar Skene (muaranya disekitar orifisium urethra) yang peranannya masih tidak jelas. Diluar kontroversi yang ada, satu fakta memperlihatkan adanya sebagian wanita yang merasakan kenikmatan dengan ditimbulkannya tekanan ringan pada daerah tersebut. Biasanya tekanan tersebut diperoleh dengan memasukkan dua jari (jari telunjuk dan tengah). Sebagai tambahan, oleh karena kelenjar Skene berada dekat kandung kemih maka sejumlah wanita merasa bahwa tekanan tersebut dapat menimbukan sensasi ingin buang kecil.

Servik

Servik adalah pintu masuk kedalam uterus. Panjangnya bervariasi antara 1 – 4 cm tergantung pada fase dalam siklus haid wanita yang bersangkutan. Kanalis Servikalis kadangkala tertutup oleh lendir servik untuk mencegah infeksi kedalam uterus. Saat ovulasi, lendir servik menjadi encer dan memungkinkan pasase sperma kedalam uterus.

Uterus

Uterus atau rahim merupakan organ reproduksi utama. Bagian dalam dilapisi oleh selaput lendir (mukosa) yang disebut endometrium. Endometrium tumbuh dan mengalami perubahan selama siklus haid untuk kepentingan implantasi hasil konsepsi. Bila tidak terjadi fertilisasi, endometrium akan luruh dan terjadilah haid. Rahim memiliki otot yang sangat kuat (miometrium) yang dibutuhkan saat persalinan.

Ovarium

Ovarium_2

Ovarium berfungsi untuk menghasilkan estrogen dan progesteron (hormon sex wanita) dan menghasilkan telur yang matang (ovum). Saat seorang anak perempuan dilahirkan, ovarium memiliki sekitar 400.000 ovum primordial. Jumlah ini lebih banyak dibanding kan dengan kebutuhan oleh karena sepanjang masa reproduksi wanita diperkirakan hanya diperlukan sekitar 500 telur yang matang. Setelah matang, sel telur akan keluar dari ovarium (ovulasi) menuju ke tuba falopii dan menempuh perjalanan sekitar 3 – 4 hari dan siap untuk dibuahi oleh sperma ( fertilisasi) sehingga menghasilkan hasil konsepsi (kehamilan). Telur yang tidak dibuahi akan keluar bersama